Yumezora
Genre :
Romance
Character :
Yamashita Riku, Nishijima Hiroki, Nakano Mayu, Nakano Ryu, Morikawa Yuuki,
Nanajima Akita
Author :
Miura
*Multi-chapter*
[CHAPTER 1]
KRINGGG!! –
Ah, jam weker ku berbunyi
“Rikun!!
Bangunlah! Kau akan terlambat di hari pertamamu jika kau tidak bangun
sekarang!!” ucap Kaa-san dari luar pintu kamarku sambil mengetuknya
“Ya
ampun! 15 menit lagi?!”
“Kaa-san!
Ittekimasu!” seru ku sambil menggigit selembar roti dengan mulutku “Hati-hati
di jalan!”
“Ya ampun! Aku bisa terlambat
kali ini!” aku semakin menambah kecepatan lariku, aku sungguh tak ingin
terlambat di hari pertamaku “Apa masih
sempat naik bus ya?” Aku semakin
bingung tak terarah
“Hei, kau!”
Seseorang memanggilku?
Aku membalikkan badanku dan melihat
sesosok pemuda yang tengah melihatku dengan sepedanya tepat 2 meter
dibelakangku—tapi aku masih bingung dan hendak lekas lari
“Hei, kau! Kau murid baru ya?”
tanyanya sambil mengayuh pelan sepedanya—aku mengangguk “Ayo, aku akan
memboncengmu. Kau SMA Sakura juga, kan?” aku kembali mengangguk “Cepatlah,
mungkin saja kita akan terlambat” dia kembali mempersilahkanku
Orang yang baik
Beberapa menit kemudian aku dan
dia telah berada di depan gerbang sekolah “Huh, syukurlah masih 5 menit lagi”
ujarnya “Tidak. kurasa 4 menit lagi. Arigatou gozaimasu telah menggantarkanku”
jawabku lalu membungkukkan badan untuk rasa terimakasih
“Aku ke kelas dulu” aku masih
belum terbiasa dengan sekolah baru, dan ini membuatku sedih menjadi pemalu
“Hei!” aku melihatnya “Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi” tambahnya—aku
mengangguk
Dengan sisa waktu yang tersisa,
aku (lagi-lagi) mempercepat langkahku. Sampai ketika aku melewati kelas yang
bertuliskan 2-C disana. Itu memang bukan kelasku tapi ada sosok yang menahan
pandanganku selama 10 detik
Dia siapa?
“Lebih baik aku segera ke kelas!” entah apa yang laki-laki itu
perbuat tapi dia sungguh menahan pandanganku
TING TUNG
“Rikun!! Hayyaku!” “Iya, iya
Mayu. Kenapa tergesa-gesa seperti itu?” “Ah, nanti saja ada yang ingin ku
perkenalkan padamu” jawab sahabatku, Mayu
Aku dan Mayu sudah lama
bersahabat sejak sekolah dasar. Dia adalah gadis yang energik dan mempunyai
banyak teman. Terkadang aku sedikit iri dengannya karena aku tergolong orang
yang sulit untuk berteman
“Nii-chan!” “Nii-chan?” sebelumnya Mayu hanya bercerita jika kakaknya sekolah
di Fukuoka dan aku tak pernah bertemu sebelumnya “Yo!” “Onii-chan, perkenalkan
ini Riku dia yang sering ku ceritakan padamu~”
Apa saja yang kau bicarakan
padanya Mayu?!!
“Nakano Ryu. Yoroushiku ne”
sapanya sambil menjabat tanganku. Tak kusangka kakak Mayu lebih baik daripada
adiknya sendiri—aku membalasnya dengan anggukan “Kelas nii-chan di 2-C, kan?”
2-C? Berarti..
“Hehe.. iya, oh ya kakak membeli
2 roti, ambillah” “Waaa.. arigatou nii-chan!”
tik tuk
“Rikun? Rikun?” “Ah, iya?”
“Kenapa melamun? Apa ada yang sedang kau pikirkan?” aku menggeleng “Tidak,
tidak ada” aku kembali melahap roti yang diberikan Nakano-senpai tadi. Saat aku
menggigit roti untuk kedua kalinya
“Rikun!”
Tersedak
“Uhuk, uhuk.. ada apa?” tanyaku
datar “Lihat! Siapa laki-laki itu?” tanya Mayu sambil menunjuk orang itu—kami
sedang berada di atap sekolah “Aku tak tau” jawabku datar—Sebenarnya aku hanya
malas melihat orangnya “Aaaa~ tampan sekali~”
Lalu..
“HEI KAU!!” ya ampun Mayu
terlalu agresif—laki-laki itu juga melihat kami berdua— aku langsung menyumpal
mulut Mayu dengan roti “Bisakah kau tidak bertindak aneh dulu, Mayu?” “Kenapa?
Kau takut sensei akan menangkap kita, ya?”
Aku menggeleng, “Lebih buruk,
mungkin kita akan dihukum” jawabku yang lagi-lagi datar—Mayu langsung histeris
“Cepatlah, kita lebih baik kembali ke kelas saja!” “Tidak,Rikun! Aku.. aku
masih ingin memandang wajah tampan itu lagi~”
Ya ampun anak ini..
“Terserah saja, aku ingin
kembali ke kelas saja”
Aku melawan arus, aku berjalan
sendirian. Ya. Itu tak apa “Perpustakaan?”
akhirnya aku mengarah ke perpustakaan, yaa kupikir aku dapat meminjam 4 atau
bahkan 5 buku disana
Hatiku serasa berada di langit,
aku memang suka membaca buku dan maka dari itu aku suka menyendiri “Haa!! Banyak sekali!! Hmm.. mitologi?
Sejarah? Hmm..” mataku tertuju pada sebuah novel karya David D Loke, kukira
ini adalah buku yang menarik walaupun aku belum pernah tau penulisnya
Aku meraih buku ini namun..
Kenapa ini? Apa ada seseorang
yang ingin mengambilnya juga?
Aku bingung, kenapa buku ini tak
kunjung ku ambil. Apa ada yang mengambilnya juga? —aku melepaskan buku
itu—sambil melirik siapa yang mengambilnya—tapi kenapa orang itu tak mengambil
bukunya?
“Anoo.. jika kau menginginkan
bukunya, silahkan saja..” aku memang seperti ini jika diluar “Tak ada jawaban?” perlahan aku berjalan
menengok kesana “Tidak ada?” gumamku
Sungguh aneh
“HOAA!!” ada yang menarik
tanganku—dia.. siapa? Aku sama sekali tak dapat melihat wajahnya, dia tak
menunjukkan wajahnya dengan sengaja menutupinya dengan rambutnya yang kurasa
dia mengecat sebagian rambutnya dengan warna pirang
Dia mulai mengangkat
wajahnya—aku pun juga penasaran
“Take it” ujarnya singkat, aku
pun menerima buku yang kami perebutkan tadi
Kenapa? Apa dia.. orang yang
menahan pandanganku.. ?
Dia mulai melepaskan cengkaraman
kuatnya dari lengan kananku, dan juga melangkah pergi. —aku sedikit melamun. Ah,
aku tak sadar jika bel masuk sudah berbunyi. Sebaiknya aku lekas pergi ke kelas
Apa kau orangitu?
Jika kau orangnya.. kumohon..
Bertemulah denganku..
Keesokkan
Harinya..
“Rikun!!!” kembali lagi aku
harus disambut dengan teriakan Mayu “Kita pulang sama-sama ya!!” “Ah, tidak.
Ada yang ingin kubeli dulu—“ “Ayolah~ ikut saja~ aku tau kau hanya beralasan
seperti itu saja”
Ya ampun..
“Rikun” “Nakano-senpai kenapa
memanggilku begitu..?” “Memangnya kenapa? Nii-chan kan sudah menjadi teman Rikun
juga” aku menghela nafas “Tetap saja aku tidak suka..” ujarku datar
“Baik, baik. Gomen. Bagaimana
aku harus memanggilmu?” “Nii-chan! Panggil dia Rikun seperti biasanya saja!”
“Terserah kalian saja” jawabku dan kami memulai jalan kami, Mayu terihat sangat
manja di depan kakaknya. Ah, itu membuatku sedikit iri
“Rikun, sampai jumpa besok ya!!”
sambil melambaikan tangan padaku, mereka hanya mengantarkanku sampai ke halte
bus ini semua karena aku harus menggunakan bus untuk pulang kerumah
Aku menunggu, menunggu, dan
menunggu. Tapi kenapa bus tidak datang juga? Mungkin aku pulang terlalu sore.
Dan sekarang rasanya kakiku sudah lelah, aku sudah berdiri selama 14 atau 15
menit disini
“Hei”
Dia?
“Kau yang kemarin, kan?” dia
orang yang mengantarku di hari pertama itu—aku mengangguk “Kau menunggu bus ya?
Hmm.. kurasa jam seperti ini bus akan lama datang, lebih baik kau ikut denganku
saja”
“He? Aku akan merepotkanmu
nanti.. di hari pertama saja aku—“ “Tak usah sungkan, silahkan duduk” entah apa
yang membuat laki-laki ini baik padaku, tapi jangan heran dengan sepedanya.
Sepedanya terlihat seperti sepeda laki-laki hanya saja terdapat satu sadel
tambahan disana
“Kau Yamashita Riku dari kelas
1-B, kan?” “Darimana kau tau?” dia tertawa kecil “Hanya menebak saja” aku yakin
itu bukan asal menebak “Namamu siapa?” tanyaku “Morikawa Yuuki, kelasku di 1- D dan panggil saja aku Yuuki”
“Tapi aku tidak enak memanggilmu
langsung dengan nama belakangmu begitu saja..” “Tak apa, aku sudah mengenalmu
jauh dibanding dengan kau yang mengenalku, Rikun”
Dia memanggilku dengan nama
panggilanku?
“Aku kurang suka jika orang yang
baru saja ku kenal langsung menyebut nama panggilanku..” “He? ah, gomen, gomen”
selama perjalanan aku hanya mendengarkan kata-kata dari Morikawa-san. Sampai..
Dia.. orang itu.. kenapa dia
melamun disana?
Aku kembali melihat sosok itu.
Orang yang kemarin menahan pandanganku dan mencengkaram lenganku. Kenapa dia
terlihat melamun di dekat jembatan seperti itu?
“Kita sudah sampai” kenapa dia
tau rumahku? “Arigatou gozaimasu, kali ini kau mengantarku lagi. Arigatou gozaimasu”
“Tak usah sungkan, besok aku jemput lagi ya”
Jemput lagi?
“Tadaima” “Okaerinasai, Rikun”
Kaa-san langsung menyambutku dengan hangat “Apa sekolahmu menyenangkan hari
ini?” “Tentu saja, hanya saja tadi aku pulang terlambat karena menunggu bus”
“He? Rikun pasti lelah menunggu,
lalu apa bus nya ada?” aku menggeleng “Saat aku menunggu ada seorang laki-laki
yang menawariku pulang bersamanya” “Apa dia juga satu sekolah denganmu?”
Aku mengangguk “Ya, dan dia tau
namaku dan langsung memanggilku ‘Rikun’. Dia bilang dia lebih mengenalku
dibanding aku mengenalnya..” Kaa-san masih berangguk-angguk ria “Siapa
namanya?”
“Namanya.. Morikawa Yuuki”
jawabku lalu meminum ocha hangat yang sudah disediakan Kaa-san
“HEE?? YUUKUN???”
Aku kembali tersedak
“Memangnya Kaa-san tau apa
tentangnya?” tanyaku “Dia itu putra dari sahabat Ibu! Ibunya adalah sahabat Ibu
sejak SMP dan namanya Morikawa Yuka!” “Lalu kenapa histeris seperti itu?” “Hehe..
hanya saja~ tidak ada apa-apa~”
Kaa-san kembali membuatku
penasaran
“Tapi kau harus tetap baik
padanya, yaa.. anggap saja dia kakakmu. Yuu nii-chan~”
“Tidak mau”
Keesokkan
Harinya..
“Rikun, berjuanglah” Kaa-san
selalu menyemangatiku setiap hari sebelum berangkat ke sekolah “Baiklah!
Ittekimasu” aku membuka pintu utama rumahku dan
“Rikun”
Kenapa dia.. dia menepati
janjinya
“Araa~~
Yuukun! Ohayou! Lama tak jumpa!!” Kaa-san langsung berbaik hati “Sora-san,
ohayou” “Yuukun mau menjemput Rikun, ya? Hati-hati di—“
“Jangan
terlalu baik seperti itu, Kaa-san” “Rikun, tak baik seperti itu. Nah, Yuukun
jaga dia baik-baik ya” pesan Kaa-san padanya sambil mengacungkan jempol
Beberapa
menit kurang lebih 10 menit kemudia kami sudah sampai di sekolah. Morikawa-san
pun memarkirkan sepedanya “Rikun, nanti ada yang ingin ku katakan padamu” aku mengangguk
“Pulang sekolah nanti aku tunggu di parkiran sepeda ya” aku kembali mengangguk
Dia
mengacak-acak rambutku “Jangan pulang duluan ya”
Kenapa.. seenaknya menyentuhku?
Dia
lebih dulu pergi dan sementara aku.. aku sedikit shokku
“Rikun?
Rikun?” Ya ampun, kenapa aku bisa melamun “Ah, Nakano-senpai” “Kenapa melamun
disini? Cepat pergi ke kelas, nanti kau terlambat”
Aku
mengangguk “Biar aku temani ya” ajak Nakano-senpai “Tidak perlu, aku—“
“Daijoubu. Lagipula Mayu sedang sakit di rumah jadi aku bisa menemanimu sampai
ke kelas” “Apa tidak merepotkan?” dia mengangguk dan langsung meraih tanganku
Kenapa.. seenaknya menyentuhku?
Aku
segera melepaskannya “Kumohon jangan menyetuhku” “Kenapa?” aku menatap tajam
matanya tanda aku tak suka
Masa
SMA ku harus diawali dengan perasaan aneh seperti ini? Rasanya benar-benar
mengganguku. Berawal dari Morikawa-san yang mengantarku pergi ke sekolah di
hari pertama dan Nakano-senpai yang bersikap manis denganku saat pertama kali
bertemu
Namun..
orang yang aneh sekaligus terlihat berandalan itu.. aku tak dapat membuang
ingatanku tentang orang itu..
“Rasanya membosankan juga tidak ada Mayu” walaupun gadis itu selalu menggangguku tetap
saja dia sahabat yang baik. Walaupun baru satu minggu lebih di sekolah ini aku
sudah merasa nyaman berada di atap sekolah untuk membaca buku seperti sekarang
“Buku
ini bagus, tak rugi aku meminjamnya di perpustakaan walaupun harus mengalami
perebutan dengan laki-laki itu” aku membalik halaman per halaman “Eh, ini apa?”
aku menemukan secarik kertas dengan angka-angka, mungkin ini nomor telepon
seseorang
“Waa!
Anginnya kencang sekali! Duh, duh..” angin tiba-tiba saja menerpa kencang
sampai pintu disini tertutup “Ah, aku kembali ke kelas” aku memegang gagang
pintu namun,
“He?
Kenapa tidak bisa terbuka?” aku berusha keras untuk membuka pintu ini, namun
tetap saja tidak bisa “Bagaimana aku bisa keluar?” aku terus berpikir ditengah
kencangnya angin yang menerpa
“Aku
tak punya nomor siapapun kecuali Kaa-san.. bagaimana ini?” kenapa aku harus
terjebak disini dengan ponsel ku yang baru tanpa nomor telepon?? Dan aku tak
mungkin berteriak dari atas sini!
“Mungkin..
aku bisa menghubungi nomor telepon ini!” aku langsung mengambil ponselku lalu
menuliskan nomor itu dan segera menghubunginya
“Moshi,
moshi?”
“...”
Kenapa tak ada jawaban?
“Silahkan tinggalkan pesan”
“Anoo..
aku siswi di SMA Sakura, aku sedang terjebak di atap sekolah karena pintu ini
tertutup akibat angin kencang dan aku tak bisa membukanya dari luar, kuharap
kau bisa menolongku disini”
“Pesan tersampaikan” dan tak lama kemudian..
“Apa
kau baik-baik saja?” ada seseorang yang bertanya? Aku selamat!—aku membalikkan
badan
Laki-laki itu?!
Aku
dapat melihat rambut hitam pirang nya, dia.. dia laki-laki itu! Lalu, kenapa
dia mendekat? “Arigatou gozaimasu sudah datang kemari” “Aku hanya menuruti
pesan itu saja” “Ohh begitu ya..”
“Kenapa
kau bisa ada disini?” dia bertanya, aku sangat penasaran dengan wajahnya,
kenapa dia terlihat menutupi wajahnya lagi dengan rambutnya “Aku hanya ingin
membaca buku disini, dan tiba-tiba saja—“
“Are
you okay?” mendengarnya.. kenapa aku jadi malu? Ini.. ini.. aneh “Aku tidak
apa-apa” jawabku sambil menundukkan kepala “Seharusnya pintu itu dipasang
stopper” gumamnya
Namun,
tiba-tba saja angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya
cklek
“Tidak!“Pintunya
tertutup lagi ya?” tanyanya datar “Kenapa bertanyanya santai sekali? Kita
terjebak! Dan aku terjebak disini untuk kedua kalinya” ucapku kesal
“Setidaknya
kau tidak terjebak disini sendirian”
He?
“Ini
lebih baik daripada kau yang terjebak disini sendirian seperti tadi,right?”
ujarnya sambil menatap langit yang hendak turun hujan—aku mengangguk lagi “Kenapa
nomor teleponmu ada di buku ini?” “Aku sudah merencanakannya”
“Aku
sudah tau jika kau akan meminjam buku itu, jadi aku menyelipkan nomor teleponku
di halaman ke 355 di novel karya David D Loke itu. Dan aku juga tau kau pasti
akan menelpon nomor itu disini karena kau menggunakan ponsel baru”
Darimana dia tau semua itu?
“Itu
aneh”
“Aku
juga berpikir seperti itu” ujarnya “Semua orang termasuk kau juga berpikiran
kalau aku aneh akibat rambut dan tingkahku, kan?” hembusan angin menerpa
rambutnya, dan itu.. aku mulai bisa melihat wajahnya
Dia..
“Aku
tak tau kau siapa, yang jelas kau adalah Kouhaiku, kan?” aku mengangguk
“Bisakah..
kau menyimpan semua rahasiaku?”
-TSUZUKU-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar