Senin, 15 Juni 2015

Yumezora



Yumezora



Genre : Romance
Character : Yamashita Riku, Nishijima Hiroki, Nakano Mayu, Nakano Ryu, Morikawa Yuuki, Nanajima Akita
Author : Miura
*Multi-chapter*



















[CHAPTER 1]

KRINGGG!! – Ah, jam weker ku berbunyi
“Rikun!! Bangunlah! Kau akan terlambat di hari pertamamu jika kau tidak bangun sekarang!!” ucap Kaa-san dari luar pintu kamarku sambil mengetuknya
“Ya ampun! 15 menit lagi?!”
“Kaa-san! Ittekimasu!” seru ku sambil menggigit selembar roti dengan mulutku “Hati-hati di jalan!”
                “Ya ampun! Aku bisa terlambat kali ini!” aku semakin menambah kecepatan lariku, aku sungguh tak ingin terlambat di hari pertamaku “Apa masih sempat naik bus ya?” Aku semakin bingung tak terarah
                “Hei, kau!”
Seseorang memanggilku?
                Aku membalikkan badanku dan melihat sesosok pemuda yang tengah melihatku dengan sepedanya tepat 2 meter dibelakangku—tapi aku masih bingung dan hendak lekas lari
                “Hei, kau! Kau murid baru ya?” tanyanya sambil mengayuh pelan sepedanya—aku mengangguk “Ayo, aku akan memboncengmu. Kau SMA Sakura juga, kan?” aku kembali mengangguk “Cepatlah, mungkin saja kita akan terlambat” dia kembali mempersilahkanku
Orang yang baik
                Beberapa menit kemudian aku dan dia telah berada di depan gerbang sekolah “Huh, syukurlah masih 5 menit lagi” ujarnya “Tidak. kurasa 4 menit lagi. Arigatou gozaimasu telah menggantarkanku” jawabku lalu membungkukkan badan untuk rasa terimakasih
                “Aku ke kelas dulu” aku masih belum terbiasa dengan sekolah baru, dan ini membuatku sedih menjadi pemalu “Hei!” aku melihatnya “Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi” tambahnya—aku mengangguk
                Dengan sisa waktu yang tersisa, aku (lagi-lagi) mempercepat langkahku. Sampai ketika aku melewati kelas yang bertuliskan 2-C disana. Itu memang bukan kelasku tapi ada sosok yang menahan pandanganku selama 10 detik
Dia siapa?
                “Lebih baik aku segera ke kelas!” entah apa yang laki-laki itu perbuat tapi dia sungguh menahan pandanganku
TING TUNG
                “Rikun!! Hayyaku!” “Iya, iya Mayu. Kenapa tergesa-gesa seperti itu?” “Ah, nanti saja ada yang ingin ku perkenalkan padamu” jawab sahabatku, Mayu
                Aku dan Mayu sudah lama bersahabat sejak sekolah dasar. Dia adalah gadis yang energik dan mempunyai banyak teman. Terkadang aku sedikit iri dengannya karena aku tergolong orang yang sulit untuk berteman
                “Nii-chan!” “Nii-chan?” sebelumnya Mayu hanya bercerita jika kakaknya sekolah di Fukuoka dan aku tak pernah bertemu sebelumnya “Yo!” “Onii-chan, perkenalkan ini Riku dia yang sering ku ceritakan padamu~”
Apa saja yang kau bicarakan padanya Mayu?!!
                “Nakano Ryu. Yoroushiku ne” sapanya sambil menjabat tanganku. Tak kusangka kakak Mayu lebih baik daripada adiknya sendiri—aku membalasnya dengan anggukan “Kelas nii-chan di 2-C, kan?”
2-C? Berarti..
                “Hehe.. iya, oh ya kakak membeli 2 roti, ambillah” “Waaa.. arigatou nii-chan!”
tik tuk
                “Rikun? Rikun?” “Ah, iya?” “Kenapa melamun? Apa ada yang sedang kau pikirkan?” aku menggeleng “Tidak, tidak ada” aku kembali melahap roti yang diberikan Nakano-senpai tadi. Saat aku menggigit roti untuk kedua kalinya
                “Rikun!”
Tersedak
                “Uhuk, uhuk.. ada apa?” tanyaku datar “Lihat! Siapa laki-laki itu?” tanya Mayu sambil menunjuk orang itu—kami sedang berada di atap sekolah “Aku tak tau” jawabku datar—Sebenarnya aku hanya malas melihat orangnya “Aaaa~ tampan sekali~”
                Lalu..
                “HEI KAU!!” ya ampun Mayu terlalu agresif—laki-laki itu juga melihat kami berdua— aku langsung menyumpal mulut Mayu dengan roti “Bisakah kau tidak bertindak aneh dulu, Mayu?” “Kenapa? Kau takut sensei akan menangkap kita, ya?”
                Aku menggeleng, “Lebih buruk, mungkin kita akan dihukum” jawabku yang lagi-lagi datar—Mayu langsung histeris “Cepatlah, kita lebih baik kembali ke kelas saja!” “Tidak,Rikun! Aku.. aku masih ingin memandang wajah tampan itu lagi~”
Ya ampun anak ini..
                “Terserah saja, aku ingin kembali ke kelas saja”
                Aku melawan arus, aku berjalan sendirian. Ya. Itu tak apa “Perpustakaan?” akhirnya aku mengarah ke perpustakaan, yaa kupikir aku dapat meminjam 4 atau bahkan 5 buku disana
                Hatiku serasa berada di langit, aku memang suka membaca buku dan maka dari itu aku suka menyendiri “Haa!! Banyak sekali!! Hmm.. mitologi? Sejarah? Hmm..” mataku tertuju pada sebuah novel karya David D Loke, kukira ini adalah buku yang menarik walaupun aku belum pernah tau penulisnya
                Aku meraih buku ini namun..
Kenapa ini? Apa ada seseorang yang ingin mengambilnya juga?
                Aku bingung, kenapa buku ini tak kunjung ku ambil. Apa ada yang mengambilnya juga? —aku melepaskan buku itu—sambil melirik siapa yang mengambilnya—tapi kenapa orang itu tak mengambil bukunya?
                “Anoo.. jika kau menginginkan bukunya, silahkan saja..” aku memang seperti ini jika diluar “Tak ada jawaban?” perlahan aku berjalan menengok kesana “Tidak ada?” gumamku
Sungguh aneh
                “HOAA!!” ada yang menarik tanganku—dia.. siapa? Aku sama sekali tak dapat melihat wajahnya, dia tak menunjukkan wajahnya dengan sengaja menutupinya dengan rambutnya yang kurasa dia mengecat sebagian rambutnya dengan warna pirang
                Dia mulai mengangkat wajahnya—aku pun juga penasaran
                “Take it” ujarnya singkat, aku pun menerima buku yang kami perebutkan tadi
Kenapa? Apa dia.. orang yang menahan pandanganku.. ?
                Dia mulai melepaskan cengkaraman kuatnya dari lengan kananku, dan juga melangkah pergi. —aku sedikit melamun. Ah, aku tak sadar jika bel masuk sudah berbunyi. Sebaiknya aku lekas pergi ke kelas

Apa kau orangitu?
Jika kau orangnya.. kumohon..
Bertemulah denganku..

Keesokkan Harinya..
                “Rikun!!!” kembali lagi aku harus disambut dengan teriakan Mayu “Kita pulang sama-sama ya!!” “Ah, tidak. Ada yang ingin kubeli dulu—“ “Ayolah~ ikut saja~ aku tau kau hanya beralasan seperti itu saja”
Ya ampun..
                “Rikun” “Nakano-senpai kenapa memanggilku begitu..?” “Memangnya kenapa? Nii-chan kan sudah menjadi teman Rikun juga” aku menghela nafas “Tetap saja aku tidak suka..” ujarku datar
                “Baik, baik. Gomen. Bagaimana aku harus memanggilmu?” “Nii-chan! Panggil dia Rikun seperti biasanya saja!” “Terserah kalian saja” jawabku dan kami memulai jalan kami, Mayu terihat sangat manja di depan kakaknya. Ah, itu membuatku sedikit iri
                “Rikun, sampai jumpa besok ya!!” sambil melambaikan tangan padaku, mereka hanya mengantarkanku sampai ke halte bus ini semua karena aku harus menggunakan bus untuk pulang kerumah
                Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi kenapa bus tidak datang juga? Mungkin aku pulang terlalu sore. Dan sekarang rasanya kakiku sudah lelah, aku sudah berdiri selama 14 atau 15 menit disini
                “Hei”
Dia?
                “Kau yang kemarin, kan?” dia orang yang mengantarku di hari pertama itu—aku mengangguk “Kau menunggu bus ya? Hmm.. kurasa jam seperti ini bus akan lama datang, lebih baik kau ikut denganku saja”
                “He? Aku akan merepotkanmu nanti.. di hari pertama saja aku—“ “Tak usah sungkan, silahkan duduk” entah apa yang membuat laki-laki ini baik padaku, tapi jangan heran dengan sepedanya. Sepedanya terlihat seperti sepeda laki-laki hanya saja terdapat satu sadel tambahan disana
                “Kau Yamashita Riku dari kelas 1-B, kan?” “Darimana kau tau?” dia tertawa kecil “Hanya menebak saja” aku yakin itu bukan asal menebak “Namamu siapa?” tanyaku “Morikawa Yuuki,  kelasku di 1- D dan panggil saja aku Yuuki”
                “Tapi aku tidak enak memanggilmu langsung dengan nama belakangmu begitu saja..” “Tak apa, aku sudah mengenalmu jauh dibanding dengan kau yang mengenalku, Rikun”
Dia memanggilku dengan nama panggilanku?
                “Aku kurang suka jika orang yang baru saja ku kenal langsung menyebut nama panggilanku..” “He? ah, gomen, gomen” selama perjalanan aku hanya mendengarkan kata-kata dari Morikawa-san. Sampai..
Dia.. orang itu.. kenapa dia melamun disana?
                Aku kembali melihat sosok itu. Orang yang kemarin menahan pandanganku dan mencengkaram lenganku. Kenapa dia terlihat melamun di dekat jembatan seperti itu?
                “Kita sudah sampai” kenapa dia tau rumahku? “Arigatou gozaimasu, kali ini kau mengantarku lagi. Arigatou gozaimasu” “Tak usah sungkan, besok aku jemput lagi ya”
Jemput lagi?
                “Tadaima” “Okaerinasai, Rikun” Kaa-san langsung menyambutku dengan hangat “Apa sekolahmu menyenangkan hari ini?” “Tentu saja, hanya saja tadi aku pulang terlambat karena menunggu bus”
                “He? Rikun pasti lelah menunggu, lalu apa bus nya ada?” aku menggeleng “Saat aku menunggu ada seorang laki-laki yang menawariku pulang bersamanya” “Apa dia juga satu sekolah denganmu?”
                Aku mengangguk “Ya, dan dia tau namaku dan langsung memanggilku ‘Rikun’. Dia bilang dia lebih mengenalku dibanding aku mengenalnya..” Kaa-san masih berangguk-angguk ria “Siapa namanya?”
                “Namanya.. Morikawa Yuuki” jawabku lalu meminum ocha hangat yang sudah disediakan Kaa-san
                “HEE?? YUUKUN???”
Aku kembali tersedak
                “Memangnya Kaa-san tau apa tentangnya?” tanyaku “Dia itu putra dari sahabat Ibu! Ibunya adalah sahabat Ibu sejak SMP dan namanya Morikawa Yuka!” “Lalu kenapa histeris seperti itu?” “Hehe.. hanya saja~ tidak ada apa-apa~”
Kaa-san kembali membuatku penasaran
                “Tapi kau harus tetap baik padanya, yaa.. anggap saja dia kakakmu. Yuu nii-chan~”
                “Tidak mau”
Keesokkan Harinya..
                “Rikun, berjuanglah” Kaa-san selalu menyemangatiku setiap hari sebelum berangkat ke sekolah “Baiklah! Ittekimasu” aku membuka pintu utama rumahku dan
“Rikun”
Kenapa dia.. dia menepati janjinya
“Araa~~ Yuukun! Ohayou! Lama tak jumpa!!” Kaa-san langsung berbaik hati “Sora-san, ohayou” “Yuukun mau menjemput Rikun, ya? Hati-hati di—“
“Jangan terlalu baik seperti itu, Kaa-san” “Rikun, tak baik seperti itu. Nah, Yuukun jaga dia baik-baik ya” pesan Kaa-san padanya sambil mengacungkan jempol
Beberapa menit kurang lebih 10 menit kemudia kami sudah sampai di sekolah. Morikawa-san pun memarkirkan sepedanya “Rikun, nanti ada yang ingin ku katakan padamu” aku mengangguk “Pulang sekolah nanti aku tunggu di parkiran sepeda ya” aku kembali mengangguk
Dia mengacak-acak rambutku “Jangan pulang duluan ya”
Kenapa.. seenaknya menyentuhku?
Dia lebih dulu pergi dan sementara aku.. aku sedikit shokku
“Rikun? Rikun?” Ya ampun, kenapa aku bisa melamun “Ah, Nakano-senpai” “Kenapa melamun disini? Cepat pergi ke kelas, nanti kau terlambat”
Aku mengangguk “Biar aku temani ya” ajak Nakano-senpai “Tidak perlu, aku—“ “Daijoubu. Lagipula Mayu sedang sakit di rumah jadi aku bisa menemanimu sampai ke kelas” “Apa tidak merepotkan?” dia mengangguk dan langsung meraih tanganku
Kenapa.. seenaknya menyentuhku?
Aku segera melepaskannya “Kumohon jangan menyetuhku” “Kenapa?” aku menatap tajam matanya tanda aku tak suka

Masa SMA ku harus diawali dengan perasaan aneh seperti ini? Rasanya benar-benar mengganguku. Berawal dari Morikawa-san yang mengantarku pergi ke sekolah di hari pertama dan Nakano-senpai yang bersikap manis denganku saat pertama kali bertemu
Namun.. orang yang aneh sekaligus terlihat berandalan itu.. aku tak dapat membuang ingatanku tentang orang itu..
“Rasanya membosankan juga tidak ada Mayu” walaupun gadis itu selalu menggangguku tetap saja dia sahabat yang baik. Walaupun baru satu minggu lebih di sekolah ini aku sudah merasa nyaman berada di atap sekolah untuk membaca buku seperti sekarang
“Buku ini bagus, tak rugi aku meminjamnya di perpustakaan walaupun harus mengalami perebutan dengan laki-laki itu” aku membalik halaman per halaman “Eh, ini apa?” aku menemukan secarik kertas dengan angka-angka, mungkin ini nomor telepon seseorang
“Waa! Anginnya kencang sekali! Duh, duh..” angin tiba-tiba saja menerpa kencang sampai pintu disini tertutup “Ah, aku kembali ke kelas” aku memegang gagang pintu namun,
“He? Kenapa tidak bisa terbuka?” aku berusha keras untuk membuka pintu ini, namun tetap saja tidak bisa “Bagaimana aku bisa keluar?” aku terus berpikir ditengah kencangnya angin yang menerpa
“Aku tak punya nomor siapapun kecuali Kaa-san.. bagaimana ini?” kenapa aku harus terjebak disini dengan ponsel ku yang baru tanpa nomor telepon?? Dan aku tak mungkin berteriak dari atas sini!
“Mungkin.. aku bisa menghubungi nomor telepon ini!” aku langsung mengambil ponselku lalu menuliskan nomor itu dan segera menghubunginya
“Moshi, moshi?”
“...”
Kenapa tak ada jawaban?
“Silahkan tinggalkan pesan”
“Anoo.. aku siswi di SMA Sakura, aku sedang terjebak di atap sekolah karena pintu ini tertutup akibat angin kencang dan aku tak bisa membukanya dari luar, kuharap kau bisa menolongku disini”
“Pesan tersampaikan” dan tak lama kemudian..
“Apa kau baik-baik saja?” ada seseorang yang bertanya? Aku selamat!—aku membalikkan badan
Laki-laki itu?!
Aku dapat melihat rambut hitam pirang nya, dia.. dia laki-laki itu! Lalu, kenapa dia mendekat? “Arigatou gozaimasu sudah datang kemari” “Aku hanya menuruti pesan itu saja” “Ohh begitu ya..”
“Kenapa kau bisa ada disini?” dia bertanya, aku sangat penasaran dengan wajahnya, kenapa dia terlihat menutupi wajahnya lagi dengan rambutnya “Aku hanya ingin membaca buku disini, dan tiba-tiba saja—“
“Are you okay?” mendengarnya.. kenapa aku jadi malu? Ini.. ini.. aneh “Aku tidak apa-apa” jawabku sambil menundukkan kepala “Seharusnya pintu itu dipasang stopper” gumamnya
Namun, tiba-tba saja angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya
cklek
“Tidak!“Pintunya tertutup lagi ya?” tanyanya datar “Kenapa bertanyanya santai sekali? Kita terjebak! Dan aku terjebak disini untuk kedua kalinya” ucapku kesal
“Setidaknya kau tidak terjebak disini sendirian”
He?
“Ini lebih baik daripada kau yang terjebak disini sendirian seperti tadi,right?” ujarnya sambil menatap langit yang hendak turun hujan—aku mengangguk lagi “Kenapa nomor teleponmu ada di buku ini?” “Aku sudah merencanakannya”
“Aku sudah tau jika kau akan meminjam buku itu, jadi aku menyelipkan nomor teleponku di halaman ke 355 di novel karya David D Loke itu. Dan aku juga tau kau pasti akan menelpon nomor itu disini karena kau menggunakan ponsel baru”
Darimana dia tau semua itu?
“Itu aneh”
“Aku juga berpikir seperti itu” ujarnya “Semua orang termasuk kau juga berpikiran kalau aku aneh akibat rambut dan tingkahku, kan?” hembusan angin menerpa rambutnya, dan itu.. aku mulai bisa melihat wajahnya
Dia..
“Aku tak tau kau siapa, yang jelas kau adalah Kouhaiku, kan?” aku mengangguk
“Bisakah.. kau menyimpan semua rahasiaku?”
-TSUZUKU-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar